Cerita seorang anak perempuan bungsu Suku Jawa – Part 1

20789.jpg
Source : freepik.com

Kita tidak pernah bisa memilih dimana dan dari rahim siapa kita dilahirkan. Tulisan ini menceritakan sebuah kisah tentang kehidupan anak perempuan bungsu yang lahir dan besar dalam sebuah keluarga Suku Jawa – Konservatif.

Sudah lama sekali aku merasakannya. Tidak setahun atau dua tahun ini. Tidak juga 5 tahun yang lalu. Aku bahkan tak bisa mengingatnya secara pasti kapan pertama kali perasaan ini muncul. Yang masih jelas kuingat adalah, sejak aku beranjak remaja di usia SMP aku telah meraskan gejolak ini meskipun mungkin saat itu aku tak menyadarinya. Perasaan terbelenggu.

Ya, aku terbelenggu.

Aku terbelenggu dalam keluarga Jawa konservatif yang punya segudang peraturan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh seorang perempuan, tentang apa yang harus dan tidak harus dilakukan oleh seorang perempuan. Aku? Apa yang bisa kulakukan? Tidak ada, selain mematuhi apa yang diinginkan oleh orang tuaku.

Sejatinya tidak salah bila orang tua menyuruh anaknya, tidak salah ketika ingin anaknya kelak menjadi manusia yang baik. Namun zaman terus berganti, apa yang (dulu) dianggap baik oleh orang tua belum tentu masih relevan untuk diterapkan kepada anak di masa sekarang, dan sayangnya tak banyak orang tua yang menyadari hal itu. Pada akhirnya tanpa mereka sadari apa yang mereka anggap tindakan untuk “mengarahkan” anak menjadi manusia yang baik seringkali berbelok menjadi tindakan untuk “memaksa” anak menjadi manusia seperti yang mereka inginkan.

Kehidupanku adalah salah satu contoh kasusnya.

Ibuku adalah yang selalu mengaturku ini dan itu. Sekali lagi kubilang bahwa itu bukanlah hal yang salah, toh Ibu melakukannya demi kebaikanku juga. Well, aku bisa bertahan dengan segala perintah dan larangan yang Ibu berikan padaku, tapi tidak selamanya. Semakin hari aturan-aturan yang Ibu terapkan padaku terasa semakin mengekangku, tidak ada kebebasan maupun pilihan disana. Tidak ada yang bisa kulakukan selain mematuhi apa yang dikehendaki Ibuku. Ya, tidak ada yang bisa kulakukan, karena saat aku menolak maka akan terjadi pertengkaran, dan saat aku mencoba memberikan pengertian aku dianggap telah pandai membantah orang tua.

Banyak aturan yang dipaksakan padaku dengan dalih bahwa aku adalah seorang perempuan. Cih!

Susah memang hidup di lingkungan yang kelewat maskulin dan kuno seperti ini. Zaman sudah jauh berubah, apa yang dulu dianggap tabu bagi perempuan saat ini juga telah banyak yang tidak relevan. Let’s say contohnya zaman dulu perempuan itu harusnya mengerjakan pekerjaan domestik, kalau istilah orang Jawa adalah masak-macak-manak (masak-berdandan-melahirkan). Zaman sekarang? Perempuan bisa melakukan lebih dari itu! Perempuan saat ini tak sedikit yang cerdas, tak sedikit yang memiliki hobi, tak sedikit pula perempuan visioner! Itu tak bisa dihindari, akupun ingin melakukan apa yang aku inginkan, apa yang membuat aku bahagia.

Aku bukan lagi anak kemarin sore, aku sudah dewasa, aku tahu mana yang baik dan tidak, aku tidak tahan untuk melakukan apa yang tidak aku inginkan! Aku lelah dengan pertengkaran yang selalu terjadi setiap kali aku menolak aturan yang kalian terapkan padaku, aku lelah berdebat demi menjelaskan apa mau dan maksudku. I really hope that you could understand me, I want you to trust that I can make it, I want you to just pray and support me for everything I have been choose for my life, and I want you to realize that I’ve grew up, that I’m not your 5 years little girl anymore Mom and Dad!

Tak ada maksud untuk tidak berterima kasih atas apa yang telah orang tuaku lakukan untukku hingga saat ini. Tak ada niat sama sekali untuk menjadi putri yang durhaka ataupun tidak menghormati Ayah dan Ibu. Sungguh aku hanya ingin menjadi mandiri Ibu, I want to live my life, aku ingin menjalani hidup seperti yang kuinginkan. Percayalah Ayah Ibu putrimu ini tak akan melampaui batas dan insyaallah tak akan tinggalkan sholat.

Ibu dan Ayah, jangan jadikan nyiyiran tetangga sebagai senjata untuk mengatur anakmu. Jangan paksa anakmu untuk meninggalkan hal yang ia suka lakukan -selama itu bukanlah dosa-. Apa yang anakmu lakukan saat ini, semua butuh doa dari kalian agar kelak bisa menjadi hal yang besar, apa yang anakmu lakukan saat ini tak lain adalah untuk kalian juga, Ayah dan Ibunya. Percayalah, anak pun ingin melihat orang tuanya bahagia di masa senjanya. Doakan saja agar kami bisa cepat berhasil Ayah, Ibu…

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.