Book

Laut Bercerita, Tentang Harapan dan Penyangkalan Akan Ketidakpastian yang Membunuh [Book Review]

Izinkanlah saya yang masih anak baru ini mencoba mengulas kembali sebuah novel fiksi berlatar belakang sejarah yang berjudul “Laut Bercerita”, buku pertama yang saya baca di tahun 2019, dan buku pertama yang saya review di blog saya ini ehehe.

2019-01-24 111148155041..jpg
Laut Bercerita by Leila S. Chudori

 

Judul Buku          : Laut Bercerita

Penulis                 : Leila S. Chudori

Penerbit              : Kepustakaan Populer Gramedia

Tahun terbit       : November 2018, Cetakan Kelima

Tebal                     : 379 halaman

Harga Buku         : Rp. 100.000

 

Penculikan aktivis di era 98 merupakan salah satu sejarah kelam Bangsa Indonesia. Munculnya para aktivis dan masivnya perlawanan yang terjadi disana-sini semata-mata merupakan bentuk protes demi lahirnya sebuah demokrasi yang telah lama tak pernah tercium baunya di masa pemerintahan Orde Baru. Penguasa yang lazimnya tak ingin turun dari tahta melakukan upaya pertahanan diri dengan segala upaya untuk membungkam para “pemberontak”, maka timbullah kemudian peristiwa penculikan hingga penghilangan paksa terhadap yang mereka anggap sebagai pemberontak.

Melalui novelnya yang berjudul Laut Bercerita, Leila Salikha Chudori mencoba menceritakan kisah perjuangan para aktivis muda untuk memperjuangkan demokrasi di masa Orde Baru, bagaimana pada akhirnya sebagian dari mereka ada yang kembali dan ada yang tak kembali, bagaimana pilunya orang-orang terkasih yang hidup dalam penyangkalan akan nasib buruk yang mungkin menimpa mereka yang tak pernah kembali.

Biru Laut, seorang mahasiswa jurusan Sastra Inggris UGM bergabung dengan sebuah kelompok aktivis bernama Wirasena yang merupakan sebuah gerakan untuk memperjuangkan demokrasi. Bersama teman-temannya, Laut kerap menjalankan aksi “ilegal” seperti melakukan diskusi, aksi bela petani, maupun demonstrasi yang tentu saja pada masa itu dilarang oleh pemerintah yang berkuasa. Namun aksi-aksi yang telah disusun secara matang kerap kali menemui kegagalan saat dijalankan, karena rupanya ada salah seorang anggota Wirasena yang menjadi mata-mata militer negara.

Menjelang akhir pemerintahan sang Presiden, gerakan-gerakan Wirasena semakin sering mengalami intimidasi, beberapa anggota telah ditangkap dan tentu saja disiksa untuk menggali informasi tentang gerakan Wirasena yang dianggap membahayakan pemerintah. Satu per satu anggota Wirasena diculik dan mengalami hari-hari penuh penyiksaan, tak terkecuali Biru Laut dan para sahabatnya, Sunu Dyantoro, Daniel Tumbuan, dan Alex Perazon yang sempat tinggal berpindah-pindah ketika menjadi buronan polisi. Beberapa aktivis wirasena ada yang dibebaskan, namun beberapa lainnya tak pernah lagi kembali. Laut bersama Sunu para aktivis Wirasena lainnya yaitu Julius, Gala, Widi, Kinan, Narendra, Dana, adalah mereka yang hilang dan tak pernah kembali.

Sementara itu, Asmara Jati adik Laut, harus bertahan dengan sikap Ayah dan Ibunya yang hidup dalam penyangkalan bahwa Laut mungkin saja telah tiada. Orang tua, istri, kekasih, juga para kawan-kawan yang selamat menjalani hidup dengan memegang harapan bahwa mereka akan pulang suatu hari nanti.

Kesan pertama saya waktu baca buku ini adalah buku ini sangat keren! Saya yang awalnya hanya mau baca beberapa halaman jadi keterusan, sampai-sampai bukunya saya tamatin baca hanya dalam waktu 2 hari. Alur penulisan yang digunakan adalah maju-mundur, sudut pandangnya menggunakan sudut pandang orang pertama dengan 2 penokohan (bab pertama dari sudut pandang Laut, bab kedua dari sudut pandang Mara, adik Laut). Menurut saya, untuk penjabaran kisah, detail tempat dan peristiwanya sangat bagus dan emosinya sangat terasa, begitu selesai membaca buku ini hati saya langsung ikutan merasa pilu seakan bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Terus juga langsung browsing-browsing tentang kasus penghilangan aktivis tahun 98 (asli sekepo itu).

Secuil kisah tentang kekeosan di akhir masa orde baru berhasil digambarkan dengan sangat apik dan serealistis mungkin. Dalam penulisannyapun Leila turut melibatkan pelaku sejarah aslinya sebagai narasumber. Saya mungkin bukan orang yang paham betul mengenai dunia seni sastra, tetapi saya tahu kalau novel ini sangat berbobot 🙂

2 tanggapan untuk “Laut Bercerita, Tentang Harapan dan Penyangkalan Akan Ketidakpastian yang Membunuh [Book Review]”

Tinggalkan Balasan ke tantri06 Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.