Music

Memahami Musik Indie Lebih Dari Sekedar Senja dan Kopi

Musik indie aja aku pahami, apalagi kamu?

ilustrasi musik indie2-01-01-01

 

 WARNING!!!

Artikel ini merupakan opini cethek namun berat dan sensitif dari seorang yang mengaku penikmat musik indie tapi bukan pengagung kopi dan senja, jadi jika ingin membaca-baca sekedar untuk menghilangkan kebosanan maka ini akan cocok denganmu!

 

Apasih (musik) Indie itu?

Secara terminologi, kita dapat memahami musik indie sebagai musik yang bebas (indie berasal dari kata independent yang artinya merdeka, sendiri, yang berdiri sendiri-yang berjiwa bebas, bebas).

Karena perasaan risih yang semakin sering menghinggapi pikiranku sejak banyak anak (menganggap dirinya) indie yang dikit-dikit selalu menggaungkan candunya pada kopi dan senja, yang menurut subyektifku mereka dan juga beberapa orang awam sedikit salah kaprah dalam menerjemahkan makna dari kata “indie” sebagai sebuah genre musik, bukan sebagai hal yang lebih dari itu, aku jadi berhasrat untuk mengulik lebih dalam tentang makna sebenarnya dari musik indie tersebut.

Baca dulu dong bosquw : Plastic Plastic, Duo Jenius Musik Asal Thailand

Sempat aku membaca beberapa artikel tentang apa itu musik indie namun kurasa aku belum juga mendapatkan definisi yang pas, sehingga akhirnya aku melakukan diskusi kecil-kecilan dengan beberapa teman yang sama-sama memiliki ketertarikan di bidang seni terutama musik. Banyak hal yang akhirnya kami diskusikan, namun aku akan merangkum sedikit saja hanya tentang makna dibalik kata “indie” yang misterius itu. Kenapa hanya sebatas makna kata “indie”? Karena jika sekalian membahas genre-genre indie akan jadi sangat panjang, untuk itu silahkan belajar sendiri pada google ya :’) . Okay, here we go!

Pertama, indie dapat merupakan sebuah cara atau jalan yang dipilih musisi untuk menyampaikan musik atau karya mereka kepada para pendengar. Dalam hal ini, fokus dari kata “indie” adalah pada prosesnya, bagaimana mereka memproduksi lagu, mengolah dan memasarkannya hingga sampai ke telinga para pendengar dimana keseluruhan proses tersebut dieksekusi secara mandiri, tanpa bantuan label mayor. Contohnya adalah band Efek Rumah Kaca yang sejak awal kemunculannya telah melakukan proses produksi hingga pemasaran karyanya dengan independen.

“Terkadang istilah indie digunakan untuk menggambarkan grup musik yang berkarier secara independen” (id.wikipedia.org).

Kedua, indie dapat berarti sebuah pola pikir, bagaimana musisi menciptakan karya didasari dengan pola pikir yang bebas. Dalam hal ini, fokus dari kata “indie” adalah lebih kepada muatan atau jiwa dari karya yang diciptakan, baik lirik lagu maupun aransemen musiknya. Tidak selalu yang bernaung di bawah label mayor karyanya bersifat populer (sesuai dengan keinginan pasar pada umumnya) dan tidak semua yang bergenre populer itu bukan indie, beberapa dari mereka tetap bisa menciptakan karya yang jiwanya bebas, yang tetap sejalan dengan idealisme mereka. Terlepas dari bagaimana mereka memproduksi dan memasarkan karyanya, musisi tetap dapat dikatakan indie sejauh karya yang mereka ciptakan adalah berdasar pada keinginan (idealisme) mereka, bukan karena keinginan label yang menaungi ataupun pasar.

Bagaimana? Apakah masih rancu? Inti dari penjelasan di atas menurutku adalah bahwa indie bukanlah sebuah genre musik, namun lebih kepada proses bagaimana karya itu diciptakan dan disebarkan secara mandiri, merdeka, idealis, tanpa adanya ikatan dan tanpa bergantung pada pihak lain. Mengutip dari loop.co.id, “Indie sendiri bukanlah suatu genre musik, melainkan sebuah gerakan musik yang bebas dan mandiri, nggak bergantung sama sebuah label musik atau sebagainya”.

 

Kenapa Suka Musik Indie?

Awal pertama aku sadar bahwa ternyata aku menyukai musik-musik Indie adalah di tahun 2015 (telat banget hahaha). Kala itu musik indie masih belum menjamur seperti sekarang, sehingga terasa sekali bahwa musik indie -dan juga para penikmatnya- itu eksklusif! Ya, eksklusif, karena jumlah kami sedikit namun mudah sekali dikenali dari penampilan luar karena fashion style yang beda dari kebanyakan orang (mostly bajunya bernuansa gelap atau stripe style, jaket jeans, memakai totebag atau sneaker buluk ala-ala jadul atau yang branded sekalian, kacamata artsy bagi yang berkacamata, begitulah kira-kira hahaha).

Saat itu, ketika tiba-tiba kamu bertemu dengan orang yang memiliki playlist serupa milikmu, hmmm… tentu saja sungguh senang rasanya!

Ini juga lah dibaca sekalian! How Creative People Show Their Feeling Through a Mixtape

Kami dengan mudahnya akan terlibat dalam pembicaraan seru mengenai musik indie yang (menurut kami) berkelas itu, mengagumi para musisi indie yang tak ragu untuk menelurkan karya yang cerdas dan berbeda di tengah-tengah musik mainstream Indonesia dan jutaan penikmatnya kala itu, kami juga akan senang ketika tiba waktunya untuk membicarakan selera musik orang-orang yang kebanyakan ya begitu-begitu saja dan berakhir dengan kalimat “coba aja di Indonesia musik-musik kayak gini lebih banyak, coba yang suka lagu-lagu cerdas kayak gini lebih banyak”.

Ya, menurutku lagu-lagu indie itu adalah lagu-lagu yang cerdas, baik dari segi lirik maupun musiknya. Liriknya lebih berani, lebih bebas dan berbobot, tak melulu tentang kehidupan percintaan seperti lagu-lagu populer yang biasa kita dengar (tapi bukan berarti lagu populer nggak cerdas ya!), musiknya pun terdengar lebih fresh karena beberapa dari mereka menggunakan instrumen musik yang beragam dan tak biasa, sangat berbeda dengan musik yang sering wara-wiri di sekitarku saat itu. Mungkin karena “perbedaan” itulah yang menyebabkan musik indie (saat itu) hanya diminati segelintir orang, mereka yang anti-mainstream.

 

Problematika Para “Penikmat Lama” Musik Indie

Di awal aku menyukai musik indie, yang terpikir olehku adalah harapan agar orang-orang Indonesia lebih sering mendengarkan lagu-lagu yang liriknya kritis seperti lagu-lagu indie, harapan agar orang-orang Indonesia bisa memiliki selera musik yang “lebih berkelas”. I know, I know, I was wrong for the 2nd statement, I’m sorry, I shouldn’t thought like that, but that’s just the way I think.

Sayangnya, saat geliat musik indie mulai naik di sekitar tahun 2017-2018, saat banyak orang mulai akrab dengan lagu-lagu indie (terutama indie-folk), saat banyak pemuda yang berpenampilan seperti kami (kami?), aku dan mungkin beberapa orang sepertiku justru tidak senang akan hal itu. Egois sekali ya?

Pernah tidak kalian berkunjung ke sebuah kafe yang suasananya nyaman dan sepi, lalu kalian berharap agar orang-orang datang ke kafe yang enak itu, namun saat kafe tersebut sudah ramai dikunjungi orang kalian justru tidak nyaman berada disana?

Well, aku tidak suka saat style kami (kami?) menjadi mainstream dan tidak eksklusif lagi, aku tidak suka saat mereka menyebut diri mereka sebagai “anak indie” padahal lagu indie yang dikenal dan didengarkan hanya itu-itu saja, padahal band indie bukan cuma Fourtwenty dan Stars and Rabbit (tidak ada maksud menyinggung fans dari band tersebut ya, karena aku juga suka mereka). Indie itu luas cakupannya, ada indie-pop, indie-rock, indie-folk, dan masih banyak lagi.

Terlepas dari tidak ketidaksukaanku terhadap musik indie menjadi mainstream di beberapa tahun terakhir, yang lebih tidak kusukai adalah saat value dari musik indie yang (sekali lagi) menurutku sedemikian agung mengalami penyempitan menjadi hanya sebatas jokes tentang senja, kopi, sholat maghrib, dan asam lambung!

 

Aku tetap akan mendengarkan lagu-lagu indie favoritku meskipun mereka sudah mainstream (hahaha) karena dengan begitu aku bisa tetap mendukung para musisi indie Indonesia 🙂 . In the end, dengan semakin eksisnya musik indie saat ini, semoga nilai dan semangatnya tak akan bergeser sebab interpretasi yang salah oleh masyarakat. Sekian.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.