Life

Pertanyaan Mengganggu (Mungkin) Adalah Soal Ketidaktahuan

Kapan lulus? Udah kerja? Kapan nikah? Kapan punya anak? Kapan berhijab? Kapan mati?

Young woman envy on  white background

Pernah nggak kalian mendapat pertanyaan-pertanyaan seperti “kapan lulus” atau “kapan nikah”? Kalau jawabannya adalah ya, maka kuucapkan selamat! Karena itu artinya kalian telah selangkah lebih dekat menjadi seorang dewasa.

Semakin dewasa, banyak hal-hal mengganggu yang akan sering kita alami. Santai saja, jangan selalu dipikirkan terlalu dalam, karena hal-hal seperti itu akan terus berdatangan dan tak akan berhenti. Aku sendiri bukannya nggak pernah marah, aku pernah kesal, marah, bahkan menangis saat mendengar pertanyaan-pertanyaan seperti kapan nikah? Atau kapan lulus? Atau juga mendengar pernyataan-pernyataan seperti temen-temenmu udah banyak yang punya anak, atau calonnya mana nih?

I mad and I cried, I did!

Saat semakin sering mendengar pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan seperti itu, aku akhirnya sadar bahwa aku tak perlu memikirkannya terlalu dalam. Butuh waktu yang cukup lama bagiku untuk akhirnya bisa berdamai dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Butuh banyak bersyukur hingga hatimu bisa sekuat dan sekeras berlian hingga tak lagi terganggu dengan hal-hal remeh seperti itu.

Suatu hari Ibuku bercerita mengenai hal yang baru saja dialaminya ketika bertemu dengan Mawar (bukan nama sebenarnya), teman sepermainanku waktu kecil dulu yang sudah menikah hampir 2 tahun lalu yang juga masih merupakan kerabat kami.

Ibuk    : Tadi Ibuk ketemu Mawar pas ke rumahnya tantemu, terus Ibuk tanya “Gimana nduk? Udah isi belum?”

Aku     : … (dalam hati udah mikir nih kalau Ibuk mungkin dapet respon negatif, mengingat si Mawar ini orangnya ceplas-ceplos dan bodo amat)

Ibuk    : Mawar bilang “Belum Bude”

Aku     : … (masih tak bergeming)

Ibuk    : Terus Ibuk bilang “Wah, gimana tuh kok belum? Si Melati aja udah lahiran”. Gitu itu lo si Mawar jawabnya “Ya biarin sih Bude. Lha itu Mbak Ratna (aku) juga belum nikah-nikah tuh gimana? Gak mau nikah apa gimana?”

Aku     : (menghela nafas) Ibuk, nanya kayak gitu tuh emang salah Buk, bisa bikin tersinggung dan sakit hati

Ibuk    : Oalah nduk, wong Ibuk ini nganggepnya itu ya cuma guyon. Anak sekarang kayak gak bisa diajak basa-basi gitu.

Baca juga : Journey to Jakarta: Panduan dan Budget Minimal Yang Kita Butuhkan

Sekali lagi aku menghela nafas mendengar jawaban Ibuku. “Hanya bercanda”. Mungkin itulah yang selama ini orang-orang pikirkan atau bahkan tak pernah pikirkan sama sekali ketika melontarkan kalimat-kalimat mengganggu itu. Mungkin orang-orang juga tak pernah menyadari bahwa basa-basi mereka lewat kalimat “bercandaan” itu tidak memberikan efek yang bercanda buat para korbannya.

Berdasarkan pengalamanku pribadi, aku paling sering mendapatkan pertanyaan basa-basi itu dari anggota keluarga atau teman yang: (1) sudah sepuh, (2) hidupnya terkungkung dengan pemikiran-pemikiran tradisional. Bukan hanya nenek, Ibu, maupun om-tanteku yang pernah bertanya seperti itu padaku, namun saudara sepupuku yang lebih tua dan beberapa teman yang sudah terlebih dahulu menikah juga pernah melakukannya padaku. Dan kesamaan dari semuanya adalah pola pikir mereka yang masih tradisional. Pola pikir tradisional itu ada karena mereka kurang berteman dengan orang-orang yang berpikiran modern.

Apakah pola pikir tradisional lebih banyak dimiliki oleh orang-orang desa ketimbang orang kota? Belum tentu juga.

Aku tidak ada masalah dengan orang-orang desa karena aku juga berasal dari desa. Aku juga tak masalah pola pikir tradisional dan budaya basa-basi khas orang Indonesia ini, hidup juga terkadang membutuhkan basa-basi agar tak terlalu kaku, benar kan. Masalahnya adalah, ketika kalimat-kalimat yang tidak sopan dan tidak menghargai privasi tersebut dianggap lumrah dan hanya sekedar basa-basi atau bercandaan.

Disini terdapat 2 cara pandang yang berbeda. Pertama adalah cara pandang yang modern, mereka yang menganggap bahwa pertanyaan-pertanyaan itu tidak baik untuk dijadikan bercandaan. Kedua adalah cara pandang yang masih tradisional, mereka yang tidak tahu bahwa pertanyaan-pertanyaan itu bukanlah kalimat yang tepat untuk dipilih sebagai obrolan basa-basi.

Orang-orang berpikiran modern pada umumnya tidak terlalu suka melakukan basa-basi, lebih individual, tidak terlalu peduli dengan kehidupan orang lain, dan paham apa itu privasi. Orang-orang dengan cara berpikir tradisional sebaliknya, mereka pada umunya lebih peduli terhadap orang lain, lebih ramah dan lebih suka berbasa-basi. Cara berpikir baik itu modern atau tradisional terbentuk dari lingkungan dan orang-orang dimana kita tumbuh dan berkembang.

Lalu bagaimana kita sebaiknya bersikap terhadap orang-orang yang menanyakan hal-hal tersebut? Banyak pilihan untuk bersikap, kita bisa memilih untuk diam dan tersenyum, kita bisa memilih untuk menjawab dengan ketus untuk membungkam mulut kejam mereka, kita bisa memilih untuk mengedukasi mereka dengan mengatakan bahwa kita tidak suka. Manapun yang akan kita pilih, pastikan kita tidak sama kejamnya dengan mereka, itu saja.

2 tanggapan untuk “Pertanyaan Mengganggu (Mungkin) Adalah Soal Ketidaktahuan”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.