BPN

Yang Paling Dirindukan Dari Ramadan Saat Masa Kecil (Day 17)

Aku mau selalu menjadi anak kecil!

cover.jpg
Source : https://rawpixel.com

Ramadan adalah bulan yang selalu membuatku rindu. Rindu kehangatan keluarga, rindu masa-masa kecil, rindu tradisinya, semuanya. Karena semakin dewasa, banyak hal yang tak bisa lagi dirasakan hingga akhirnya perasaan rindu pada masa lalu selalu muncul. Kali ini, aku akan berbagi sedikit cerita sentimentil tentang kebahagiaan di masa kecil saat bulan Ramadan yang selalu sukses membuat rindu.

 

Kehangatan saat berkumpul dan berbuka bersama keluarga

292076-P6REN7-836
Source : https://freepik.com

Saat ini aku baru saja beranjak 24 tahun, aku ingat masa-masa terakhir masih sering berbuka dan berkumpul bersama keluarga adalah saat kakakku kelas 3 SMA, yaitu sekitar 14 tahun yang lalu, tepatnya tahun 2005. Saat itu aku masih berusia 10 tahun dan kakakku 18 tahun, ia sedang duduk di tahun terakhir bangku SMA, dan di tahun berikutnya ia sudah bekerja. Saat itulah rutinitas kami untuk berkumpul dan berbuka bersama saat bulan Ramadan mulai jarang bisa dilakukan karena kakakku yang sering pulang selepas waktu berbuka. Ditambah lagi sejak 2 tahun lalu aku telah disibukkan dengan kegiatan kuliah dan kerja hingga aku juga jarang bisa berbuka puasa bersama keluarga.

Aku dan kakakku mungkin telah punya kehidupan masing-masing dan menjadi canggung bapak dan ibu, namun jauh di dalam hatiku, kerinduan momen-momen itu akan selalu ada, sama seperti bapak dan ibu.

 

Tarawih bersama teman-teman masa kecil

download
Source : https://reuters.com

Hidup di pedesaan membuatku tak punya banyak teman bermain lagi sejak beberapa tahun silam karena sebagian besar dari mereka sudah menikah dan punya anak. Surau keluarga yang dulu ramai oleh saudara dan teman sepermainan saat tarawih, kini sepi sejak satu per satu dari kami beranjak dewasa, bekerja dan mengurus bayi menjadi alasan mengapa mereka tak lagi tarawih di surau, kemudian semakin sepi sejak nenek meninggal 3 tahun lalu, beliaulah yang menjadi alasan om dan tante memilih tarawih di surau keluarga meski jaraknya lebih jauh dari rumah mereka.

 

Bermain petasan dan kembang api selepas tarawih

Celebrating with sparklers in the night
Source: https://freepik.com

Menjadi bocah memang menyenangkan ya! Tak ada hal yang merisaukan hati, meski petasan di tangan baru kita lemparkan hanya sedetik sebelum ia meledak. Kembang api dan berlarian bersama teman-teman selepas tarawih tak pernah jadi kenangan buruk. Aku rindu kalian teman-teman! Meski sekarang kita sudah saling canggung, kenangan-kenangan kita tetap tersimpan di hatiku.

 

Oncoran dan takbiran keliling

59791460_296324957923859_6192507453899484293_n
Source: https://deskgram.net

Oncor alias obor bambu adalah hal yang selalu ada saat Ramadan di masa kecilku. Momen takbiran keliling kampung dengan membawa oncor bersama teman-teman mengaji waktu kecil adalah satu dari sekian kenangan indah yang masih melekat. Aku beruntung masih bisa merasakan kegiatan tersebut, karena saat ini tak pernah ada lagi kegiatan takbiran keliling kampung membawa oncor yang sangat menyenangkan itu.

 

Waktu yang berlalu adalah mutlak, tak bisa dihentikan. Meski kenangan telah usang, kerinduan tetap akan selalu tersimpan, kenangan akan menjadi pelajaran untuk lebih baiknya kehidupan mendatang. Itulah secuil cerita tentang Ramadan di desa saat masa kecilku, bagaimana dengan ceritamu?

 

 

#30HariKebaikanBPN

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.