Life, Random Thoughts

Untuk Kalian yang Berani Menikah, Kalian Hebat

Semoga Tuhan selalu menguatkan kalian bersama

Closeup of diamond ringDulunya tulisan ini akan kuberi judul “Dear My Groom to be Friend” karena awalnya memang ingin kudedikasikan pada salah satu sahabat lelakiku yang akan menikah. Tapi apa daya, perihal pekerjaan yang mengharuskan saya hijrah ke Jakarta membuat keteteran ditambah rasa malas yang melanda menghambat penyelesaian tulisan ini. Tapi berkat itu juga akhirnya tulisan ini jadi punya bahan lebih untuk dibaca.

Sambil sedikit curhat agar ceritanya bisa nyambung nggak apa-apa ya.

Minggu-minggu awal tinggal di Jakarta adalah masa beradaptasi. Banyak pola pikir dan tingkah laku orang-orang disini yang membuka pikiranku lebih lebar. Sampai sini akan kugarisbawahi di poin tentang pernikahan ya.

Di awal masuk kantor, aku bertemu dengan beberapa temanku yang juga sama-sama baru. Mereka berasal dari beragam latar belakang hidup dan usia. Ada mbak El yang seorang pengantin baru di usianya yang menginjak 32 tahun. Ada mbak Ama yang usianya sudah 37 tahun tapi masih belum menikah. Ada pula teman satu timku, Azha dan Kean yang ternyata sebaya denganku (angkatan 95). Azha seorang perempuan yang karirnya tengah naik, dan menikah bukan persoalan yang ingin dia pikirkan dulu. Kean? Akan kuceritakan nanti.

Alasan mereka belum atau tidak ingin menikah terlalu cepat kurang lebih sama, kalau bukan karena masih ingin membahagiakan diri sendiri ya karena persoalan menikah bukan hal sepele yang harus dilakukan cepat-cepat hanya karena pertimbangan usia. Dari sini aku merasa terbantu dalam upayaku untuk move on dari yang lama (hahaha).

Lalu aku bertemu dengan Ruly, teman satu kos. Dia lelaki single, seorang desainer grafis yang ternyata juga sebaya denganku. Ketika aku bertanya persoalan menikah, dia menjawab “Nggak dulu deh, masih mau seneng-seneng”.  Well noted.

Ketika semua kurangkum, hasil pengamatanku pada orang-orang disini juga sekelebat ingatan saat berdiskusi di kala ngopi bersama teman-teman di Malang, membawaku pada sebuah kesimpulan. Hal yang membuat orang enggan untuk menikah (terlalu cepat) salah satunya ialah kehidupan pribadi yang mau tidak mau akan berubah setelah menikah (menurut mereka).

Kalo lo nikah ya pasti kehidupan lo nggak akan sama lagi. Lo yang tadinya cuma urusin diri sendiri nantinya harus urusin suami lo. Gaji yang tadinya buat muasin hobi lo, kalo udah nikah ya bakal dibagi ke istri”. Kurang lebih seperti itu dialognya.

Aku membenarkan ucapan itu. Tentang berbagi kehidupan bersama untuk seumur hidup hanya dengan satu orang yang bagiku terasa “bisa nggak ya?”, atau “bisakah kita bersama seumur hidup tanpa bercerai?”. Karena ketika sepasang anak manusia memutuskan untuk menikah, mereka telah berkomitmen dan berkompromi untuk segala perbedaan yang akan muncul di depan. Dan perlu diingat, let’s say semua itu adalah kontrak seumur hidup loh.

Sebelum aku datang ke Jakarta, kupikir yang takut menikah itu hanya lelaki. Kalian tau lah ya, tentu masalahnya adalah pada pertanyaan “Mau dikasih makan apa anak orang?” yang menurut masyarakat Indonesia kebanyakan masih menjadi tanggung jawab laki-laki.

Sekarang aku akan bercerita tentang Kean, lelaki yang sebentar lagi akan menjadi bapak. Dia teman satu timku yang aku sangat tidak menyangka bahwa rupanya dia sebaya denganku. Kupikir dia sudah berumur 28 tahunan saat kulihat ada cincin di jari manis tangan kanannya, ditambah kumis dan jenggot sedikit tebal serta perut sedikit buncit ala bapak-bapak muda.

Kean bercerita bahwa salah satu alasan dia memilih menikah muda agar nanti jarak usia dia dengan anaknya tidak terlalu jauh. “Gua ama bokap tuh usianya nggak beda jauh, jadi asik gitu kayak temen sendiri. Gua pengen ntar bisa kayak gitu juga ama anak gua”. Alasan yang bagiku lucu dan ngegemesin (hahaha).

Lalu ada lagi teman-temanku (laki-laki) dari Malang yang sudah dan akan segera menikah. Dimulai dari Kiki yang baru saja menikah Agustus lalu, serta Doni dan Brie yang akan menyusul beberapa bulan lagi. Kiki dan Doni punya alasan yang kurang lebih sama ketika kutanyai mengapa mereka mau menikah di usia mereka yang sekarang.

Ya karena ngrasa emang udah waktunya aja, pacaran juga udah lama”. Alasan sederhana dari orang yang juga sederhana.

Brie? Entahlah, aku tidak cukup dekat dengannya. Namun aku cukup terkejut mendengar kabar bahwa ia akan segera menikah. Aku ingat (dari cerita teman dekat kami sih) bahwa dia adalah tipe-tipe lelaki womanizer, sehingga kabar dia akan menikah di usia yang terbilang cukup muda bagiku adalah mengejutkan.

Menikah bukan perkara sepele, juga bukan hal yang isinya kebahagiaan saja.

Kebanyakan orang akan berharap menikah hanya sekali untuk seumur hidup. Namun perjalanan untuk menemukan pasangan yang tepat, memutuskan memilih dia menjadi “the one” untuk seumur hidup, hingga bersedia berkomitmen dan berkompromi dalam ikatan pernikahan bisa jadi merupakan proses yang memerlukan banyak pengorbanan, entah itu materi, waktu, ego, dan emosi.

Sebab itulah kalian yang telah menikah ataupun yang memutuskan untuk menikah atas kesadaran dan kesiapan kalian sendiri, di mataku kalian adalah orang yang hebat! Alasannya sederhana, karena tidak banyak orang yang rela berkompromi, mengalahi ego, berkomitmen, bersedia berbagi hidup dengan satu orang yang sama untuk seumur hidup dengan segala masalah yang akan menanti dan juga tanggung jawabnya.

Semoga kalian yang pada akhirnya menikah karena kesetiaan, kesiapan dan kesadaran kalian sendiri akan selalu dikaruniai cinta oleh Sang Pencipta, berakhir dengan menjadi jodoh satu sama lain hingga di kehidupan yang berikutnya. I’m happy for you, whoever you are 🙂

 

Note : semua nama yang kupakai disini bukan nama yang sebenarnya.

2 tanggapan untuk “Untuk Kalian yang Berani Menikah, Kalian Hebat”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.