Walk Beyond the Limit; Live the New Life

Suatu hari seorang kawan lama berkata padaku bahwa aku telah berubah sangat drastis. Am I?

Berada di Jakarta selama kurang dari satu tahun tak sedikitpun menyadarkanku bahwa perubahan yang telah terjadi padaku ternyata sangat drastis. Iya, sangat drastis kata teman-temanku. Hahaha, memang ya, kadang kita suka tidak sadar atas apa yang terjadi pada diri sendiri sampai orang lain yang mengungkapkannya.

Aku memang merasa bahwa aku telah berubah, sedikit. Iya, sebenarnya sedikit tahu!

Aku mengalami banyak pergulatan dengan diriku sendiri beberapa bulan terakhir, hingga aku memutuskan sesuatu yang (mungkin) dari luar tampak drastis. Contoh, perihal hijab.

Aku kini tidak lagi memakai hijab. Kenapa? Entahlah, aku pun masih mencari tahu jawabannya. Beberapa hal tentangku mungkin berubah, tapi tidak drastis. Sayangnya, mungkin karena tampilan fisik adalah hal yang paling mudah terlihat, dari sinilah teman-teman lamaku menilai bahwa aku telah berubah drastis.

Living the new life is not easy. And guys, as you can see, I’m trying to start my new life. Yes I am.

Aku memang ingin memulai hidup baruku disini. Aku kini mendapatkan apa yang tak pernah kudapatkan di tempat lamaku. Kebebasan. Aku tak menampik bahwa di kota ini aku benar-benar merasa lebih hidup, aku merasa lebih bahagia, aku merasa lebih bisa menjadi diriku sendiri. Entah kebahagiaan yang sedang kurasakan ini adalah semu atau nyata, yang jelas aku menikmati kehidupanku disini.

Kalau aku membahas tentangku yang kini tak lagi mengenakan hijab, apa kamu akan baca tulisan ini sampai akhir?

Awalnya aku tak memakai hijab hanya ketika bermain (di luar kehidupan kantor). Terasa sedikit aneh sih. Merasa lega, tapi juga merasa bersalah. Legaku mungkin karena aku jadi lebih bisa mengekspresikan diri ketika tak dibalut hijab. Rasa bersalahku? Kurasa karena hijab telah kukenakan selama bertahun-tahun lamanya, dan karena itu adalah perintah keluarga besarku untuk menaati agamaku.

Aku berpikir dan mempertimbangkan keputusan untuk melepas hijab dalam waktu yang tidak sebentar. Aku pun sedang mencari tahu -bahkan hingga sekarang- apakah dengan melepas hijab aku akan mendapatkan kebahagiaanku? Bahagia yang benar-benar mutlak.

Ah, mungkin tidak sih. Bagaimana bisa aku bahagia saat aku tahu bahwa keluarga besarku (dan mungkin beberapa temanku) pasti akan marah serta kecewa jika melihat aku yang seperti ini. Untuk hal ini, aku memohon maaf pada kalian.

Kurasa, aku hanya sedang melakukan pencarian. Semoga kalian bisa memahami itu, dan semoga kalian tetap mendoakan aku.

Ketika akhirnya aku memutuskan untuk benar-benar melepas hijab, aku telah memikirkan konsekuensinya. Mungkin aku akan dihujat, dicibir, mungkin aku akan mengecewakan banyak pihak. Sekali lagi aku meminta maaf. Maaf karena aku lebih memilih kebahagiaanku sendiri di atas harapan kalian, maaf aku tidak menjadi seseorang yang seperti kalian kenal di waktu dulu.

Sejujurnya, aku hanya ingin menjadi aku, manusia biasa yang ingin berbuat baik maupun jahat tanpa selalu dikaitkan dengan embel-embel agama. Aku tetap seorang Ratna yang dulu. Percayalah. Aku tak lantas menjadi murtad ataupun kriminal hanya karena tak lagi berhijab, aku tetap seorang Ratna yang suka kopi, yang galak namun penyayang, yang ceplas-ceplos dan tidak suka basa-basi, yang menyebalkan dan apa adanya. Aku tetaplah Ratna yang dulu, meski kini tak dibalut hijab.

I just wanna leave everything behind, I wanna live a new life.

Kehidupanku di Malang tidak sepenuhnya buruk, namun aku benar-benar ingin memulai hidup yang baru di kota perantauanku. Butuh tekad dan keberanian untuk benar-benar bisa “live the new life”. Aku simpan rapat-rapat memori-memori di masa lalu dan tampil sebagai Ratna yang seperti kau bisa lihat sekarang. Tak ada yang berubah drastis, aku hanya ingin menjalani hidupku yang baru, hidup yang (semoga) benar-benar akan membuatku bahagia.

I’ve walked beyond the limit that people’s made. Now I’m trying to live a better life, the new one. Don’t worry, I’m still Ratna that you used to know.

2 Comments Add yours

  1. kutukamus berkata:

    Halo Ratna. Apapun pilihan, semoga itu yang terbaik buat Ratna. Oya, mungkin ini bisa menentramkan (cek #3 dari bawah):
    https://cokro.tv/category/catatan-syafiq-hasyim/
    Saya sih mikirnya Ratna juga sudah tahu soal ini, tapi ya just in case gitu.. 🙂 Salam.

    Suka

    1. Halo kak, terima kasih atas sharingnya. Sudah kubaca dan alhamdulillah, for me it is such a blessed. Semoga kebaikan selalu menyertaimu ya kak di manapun kamu berada 🙂

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.